Hantu Taman Hutan Raya Bandung
Aku pernah menedengar sebuah cerita yang membawaku kini ke
sebuah pertanyaan besar tentang keberadaan makhluk halus di dunia ini… apakah
benar mereka bisa terlihat? Aku selalu berpikir memakai logika, orang mati ya…
mati… sudah tidak ada lagi di dunia ini. Terinspirasi sebuah acara TV kabel,
aku dan ke empat temanku iseng membuat tim, yang ingin mengungkap mitos mitos
di kota bandung. Kami baru berjalan sebulan… sampai akhirnya kami memutuskan
membubarkan diri. Kami sudah mengungjungi tempat tempat di bandung yang kayanya
cukup angker, tetapi tidak kami temukan kebenarannya. Apa semua hanya mitos? Atau,
memang kami yang tidak berhasil menemukan mereka? Namun, bukan itu alas an kami
membubarkan diri. Ekspedisi terakhir kamilah yang menghentikan kami… di sebuah
tempat yang merupakan situs sejarah. Lokasi itu terletak daerah dago atas,
Taman Hutan Raya Djuanda, atau baisa disebut ‘Goa Belanda’.
Malam jumat selalu menjadi pilihan kami untuk memulai
ekspedisi. Kami berlima berangkat menggunakan mobil. Di mobil aku memasang lagu
keras keras dan merasa sangat bersemangat malam itu. Sekitar pukul 10 malam,
kami pun sampai. Aku menginjakkan sepatuku di hamparan tanah yang becek. Malam itu
terasa sangat dingin, terang saja Taman Hutan ini berada di dataran tinggi,
ditambah efek setelah hujan besar tadi sore.
Kami pun langsung menghubungi petugas yang berjaga disana. Kami
sempat berdebat karena kami tidak boleh masuk. Akhirnya, dengan alas an tugas
kampus yang mepet, kami pun diperbolehkan masuk dengan syarat harus kembali
sebelmum pukul 12 malam. Kami turun bersama seorang guide namanya Deni. Deni bilang jalanan agak berbahaya karena habis
hujan, jalanan menjadi licin.
Kami pun ekstra hati hati… setelah cukup lama berjalan, kami
sampai di Goa Jepang. Deni yang menuntun kami masuk. Deni mulai bercerita
tentang sejarah Goa ini, suasana di dalam entah kenapa sangat panas, sangat
berbeda dengan hawa di luar. Bulu kudukku merinding, aku seperti merasa sedang
ada puluhan mata yang memperhatikanku. Deni mengajak kami masuk lebih dalam.
Sekilas, aku melihat kea rah pintu masuk tadi, dan… astaga!!
Sebuah bayangan berbentuk manusia mengintip dari luar Goa ini, dan saat aku
lihat sosok itu langsung bersembunyi! “STOP!” teriakku.
Teman temanku yang lain segera berlari ke arahki, aku pun
meminta Deni agar keluar saja. Setelah keluar, aku pun mulai mencari sosok
hitam itu, Deni pun menasihatiku agar tidak mencarinya. Bagiku itu sebuah kata
lain bahwa yang kulihat tadi adalah makhluk halus. Di luar mataku, seperti
terbawa melihat satu sisi, benar saja… aku melihat ada beberapa serdadu jepang,
terlihat berbaris seperti sedang upacara. Aku langsung memalingkan wajahku.
Deni langsung menepuk bahuku seraya berkata “jangan melamun…”
Aku pun mengangguk, dan kami melanjutkan perjalan kami ke
tempat selanjutnya yang merupakan tujuan kami, yaitu Goa Belanda. Sampailah kami,
dipersimpangan jalan dekat pohon besar. Deni menunjukkan jalan ke Goa Belanda
yang jaraknya tidak begitu jauh, hanya sekitar 500 meter lagi. Kami pun
berjalan dengan bersemangat. Belum sampai kami di Goa Belanda, aku bertanya
kepada Deni,”kang Deni, apa benar disini tuh mitosnya tidak boleh bilang kata lada (pedas dalam bahasa sunda)?
Langkah Deni langsung berhenti,,”jangan sebut kata itu!!!”
deni berteriak pada kami… seketika, suasana pun berubah mencekam. Mulai terdengar
suara aneh, seperti ada orang yang datang dari semak! Lalu, Deni mengajak kami
untuk keluar, Deni tiba tiba berlari! Kami pun tanpa piker panjang langsung
berlari sekuat kami bisa. Aku berusaha untuk focus melihat jalan yang saat itu
memang gelap dan licin.
Namun, entah mengapa, mataku seperti terarah untuk melihat
ke sekitar.. dan… aargh!! Sebuah kain putih melayang… di atas pohon yang tinggi
itu… terdengar suar perempuan tertawa!
Astagfirlah…
astagfirlah… suara langkah kaki kami pun seperti terdengar banyak kali ini!
Saat aku melihat ke belakang… astaga!!! Sekumpulan orang yang terlihat seperti
tentara berlari berbaris di belakangku! Sekuat tenaga, aku terus berlari…
napasku sudah habis, tetapi aku harus sampai ke pintu keluar yang sudah
terlihat tak jauh itu.
Tiba tiba aku tergelincir, aku terjatuh… aku melihat teman
temanku berlari semakin jauh, aku ingin berteriak… namun… suaraku tidak bisa
keluar! Badanku tidak bisa bergerak. Dari arah semak semak, muncul satu sosok
serdadu tanpa kepala!!! Berdiri diam mengarah padaku! Tubuhku… serasa
tersengat, kepalaku sangat pusing, aku sudah tidak bisa merasakan apa apa lagi
di tubuhku kini, aku merasa bandanku kesemutan… dan ketika rasa kesemutan itu
sampai ke kepalaku, itulah hal terakhir yang bisa aku ingat…
Entah bagaimana aku pun sadar, dan aku sudah berada di salah
satu pos. kataya, aku ditemukan dalam keadaan kesurupan. Aku dimasuki ‘penjaga’
hutan itu. Teman temanku menjadi saksi bahwa aku saat itu sangatlah menakutkan.
Suaraku berubah menjadi berat dan aku berbahasa sunda. Katanya, penunggu itu
menyampaikan agar tidak menantang atau tidak melanggar pantangan disana, dan
saat aku mengucapkan kata itu mereka pun bermunculan, dan aku dijadikan target
utamanya.
Disana, aku dititipin kuncen Hutan Taman Raya untuk membaca
ayat ayat suci sebanyak 33 kali, setelah sholat subuh. Syukurlah, setelah itu
aku pun merasa lebih baik.
Aku pun belajar banyak dari pengalaman itu, bahwa memang ada
beberapa hal yang memang rahasia dan lebih baik dibiarkan menjadi rahasia, dan
sebuah pantangan adalah suatu hal yang sacral, jangan pernah coba untuk
melanggarnya.
Sumber; Nightmare Side
2
Comments
Post a Comment