Total Tayangan Laman

Rabu, 22 Mei 2013

Misteri Suharto Antara Mitos dan Sejarah



Misteri Suharto Antara Mitos dan Sejarah - Indonesia harus memiliki pemimpin Lembu Petheng -anak yang tak jelas siapa bapak kandungnya- seperti Ken Arok, seperti Pak Harto yang juga tak jelas siapa bapaknya, karena orang yang tak jelas siapa Bapaknya tidak memiliki rasa minder terhadap masa lalu. (Sudjiwotedjo, Indonesian Lawyer Club 2011)

Ucapan Sudjiwotedjo saat itu menjadi tertawaan banyak orang di studio ILC dan penonton TV One, karena memang tak banyak yang mengerti kedalaman filsafah dalam sejarah Jawa seperti ungkapan Sudjiwotedjo itu.

Sejarah Jawa adalah sejarah suksesi, sejarah kudeta dan sejarah berdarah-darah dalam merebut tahta kekuasaan. Banyak tokoh yang kemudian muncul tiba-tiba dalam panggung sejarah, tanpa masa lalu, tanpa beban silsilah ia kemudian mengklaim sebagai anak para Dewa, anak Para Raja, dan dengan begitu mereka menggenggam mitos. Mitos adalah buku suci dalam kekuasaan para Raja Jawa, tampaknya ini juga yang dipegang dalam konstelasi perpolitik nasional kita yang belum lepas dari kesejarahan mitos atas silsilah di masa lalu. Naiknya Megawati dan SBY juga tak lepas dari Mitos atas kerja orangtua mereka dimasa lalu. Sehingga silsilah menjadi begitu penting dalam kerja politik kita, penghancuran mitos ini belum reda sampai sekarang.
Mitologi silsilah inilah yang kemudian ditembak oleh Sudjiwotedjo dalam melihat kasus Suharto. –Bagaimana mungkin seorang anak petani biasa membuat Sri Sultan Hamengkubuwono IX tertunduk dan menurut pada Pak Harto, bagaimana mungkin orang yang begitu Prabawa dan penuh kharisma seperti Bung Karno seperti gemetar ketakutan melihat Suharto, bahkan di akhir tahun 1966 dengan nada galau Sukarno berteriak tiga kali menyebut Suharto sebagai keadaan bahwa tak boleh ada yang merebut kursi Presiden : “Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto….” kata Bung Karno sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah barisan para Jenderalnya. Ada apa dengan kekuatan Suharto?

Jelas Sukarno tidak akan takut dengan kekuatan militer Amerika Serikat, ia sudah terbiasa menghadapi teater perang besar. Bahkan dihadapan Dadong (nama panggilan Presiden Filipina-Macapagal), Sukarno menyatakan siap menghadapi perang sebesar apapun, dan itu memang sudah dilakukan Sukarno ketika ia meletuskan kata-kata Dwikora dan mengancam perang dengan Malaysia, sebuah pidato yang mirip pidato Franklin Delano Roosevelt, “Pidato Pengumuman Perang terbesar setelah Perang Dunia II selesai” di koran-koran besar Amerika menjuluki Sukarno sebagai ‘Tiran’ dengan kekuatan tanpa tanding yang mengancam dunia bebas, tapi di sisi lain di negara-negara bekas jajahan dan negara tertindas Sukarno dijuluki “Hadiah Tuhan untuk Kebebasan Bagi mereka Yang Tertindas” disini Sukarno menunjukkan bukan saja orang nomor satu, tapi juga tokoh dunia.

Sementara Jenderal AH Nasution sendiri saat menunggui anaknya di RS Gatot Subroto yang sekarat tertembak pasukan penculik pimpinan Letkol Untung, menampik saran Adam Malik. Saat itu Adam Malik berkata pada Nasution yang juga merupakan sepupunya sendiri “Nas, kau ambil itu kekuasaan Angkatan Darat, sekarang juga kau ke Kostrad, kau pegang sendiri militer” tapi Nasution menolak dengan alasan bahwa “bagaimana mungkin aku meninggalkan anakku yang sekarat untuk urusan pekerjaan”. Disinilah kemudian Adam Malik kecewa, dan menganggap Nasution lemah, tapi mungkin Adam Malik lupa, sepanjang sejarah karir militer Nasution, ia tak berani berhadapan head to head dengan Sukarno. Seperti yang diucapkan Nasution sendiri di Amerika Serikat dalam wawancara dengan jurnalis Amerika Serikat di awal tahun 1960-an “Saya tak mungkin berhadapan dengan Sukarno, dialah yang menyadarkan saya tentang arti kemerdekaan, sebelum saya tahu apa itu merdeka di masa saya sekolah dulu” ini artinya kekuatan Sukarno memang secara personal luar biasa, dan anehnya kekuatan Sukarno bisa lebur ditangan Jenderal yang sama sekali tak dikenal sebelumnya, nama Jenderal itu pernah disebut-sebut di koran-koran sepanjang konflik politik yang panas pada paruh pertama 1960-an, namanya hanya muncul sekilas saat pemakaman Jenderal Gatot Subroto dan saat ia diangkat jadi Panglima Mandala dalam Perang Perebutan Irian Barat, itupun kemudian namanya tenggelam oleh Subandrio, Menteri Luar Negeri yang memiliki kelihaian diplomasi dengan mencari celah dukungan Inggris dan Amerika Serikat dalam menendang Belanda keluar dari Irian Barat.

Suharto lahir dari situasi yang tak jelas – Pernyataan ini bukan hanya lahir dari majalah-majalah gosip yang banyak bermunculan di tahun 1970-an mengenal asal usul Suharto, tapi juga dari buku-buku yang berbobot ilmiah tinggi seperti buku Robert Edward Elson, seorang Profesor dari University of Queensland, Australia yang secara serius meriset Suharto. Dalam satu bab pertamanya tentang asal usul Suharto menjadi bagian paling rumit untuk mendefinisikan kepribadian dan posisi psikologis Suharto dimasa mendatang, analisa Elson ini mirip dengan Karl Marx dalam mengotopsi kritik atas Kapital dalam tulisan Das Kapital tentang bagian pertamanya yang abstraktif untuk mendefinisikan fungsi komoditi dalam kehidupan manusia begitu juga Elson menyajikan riset atas konfigurasi keluarga Suharto yang rumit, mengenaskan serta tidak jelasnya siapa ayah kandung Suharto sesungguhnya dan berpengaruh atas kepribadian Suharto yang pendiam, menganalisa masalah, mempertimbangkan keadaan serta hati-hati dan kepribadian ini menjadi modal dalam keberhasilan hidupnya.

Suharto lahir 8 Juni 1921, angka ini juga masih diperdebatkan banyak orang, namun Suharto sendiri meredakan perdebatan ini dan ia secara gamblang menyatakan tanggal lahirnya adalah 8 Juli 1921. Suharto dilahirkan dari seorang Ibu yang galau, yang stress dan seorang sedang prihatin. Hal ini dinyatakan dalam Elson pada bab pertama buku tentang Suharto. – Di buku lain karangan Roeder : Anak desa : Biografi Presiden Suharto, menyebutkan dua tahun setelah kelahiran Suharto orangtua mereka bercerai, tapi Elson lebih ganas lagi menyebutkan waktunya : Orangtua Suharto bercerai empat minggu setelah kelahiran Suharto.

Sukirah sendiri mengalami kondisi stress, ia dikabarkan hilang dan ternyata sedang ‘ngebleng’ puasa tanpa makan dan minum, ia merasa membawa beban hidup yang amat berat. –Kondisi ini secara tak sadar hanya sekilas saja diberitakan para ilmuwan barat yang berpaham rasional, namun bagi kalangan Jawa yang mengerti ilmu kebatinan, jelas Sukirah mengalami beban psikologi luar biasa karena ia mengandung ‘Seorang Raja di Masa Depan’. Penduduk kampung mencari-cari Sukirah, yang kemudian ditemukan dalam keadaan hampir mati karena kurang makan dan minum.

Dari situasi keprihatinan yang tinggi itulah Suharto lahir. Di usia empat tahun Suharto sudah diserahkan ke kakak ibunya, pada keluarga Kromodiryo. Pada usia yang masih amat muda sekitar lima tahun dan ini mengherankan bagi anak desa seumurnya, Suharto sudah disekolahkan. –Suharto yang berada di dusun amat terpencil bisa bersekolah bagus ini juga menjadi bahan riset yang menarik, siapa ayah Suharto sesungguhnya? Suharto sendiri tak mengalami ikatan emosional yang tinggi kepada orang yang dianggap ayahnya yaitu Kertosudiro, -kemungkinan Suharto sudah mengerti bahwa Kertosudiro bukan ayah kandungnya (Elson, bab I –Permulaan dan Masa Muda Suharto). Di dalam buku otobiografi-nya : Suharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan, yang disusun oleh Ramadhan KH mengatakan : “dimasa lalu ada teman seingat saya bernama si Kromo, yang mengata-ngatai saya sebagai ‘Den Mas Tahi Mabul’. Dan ini penghinaan bagi Suharto kecil, lalu Suharto menonjok anak itu dan itulah pengalaman satu-satunya Suharto berkelahi, ini artinya berbeda dengan pengalaman berkelahi pertama Sukarno yang mempersoalkan dia dilarang main bola oleh Sinyo Belanda karena ia seorang Pribumi tapi Suharto berkelahi karena persoalan tak jelas asal usulnya. Dari Sukirah sendiri Suharto memang ada keturunan bangsawan Yogyakarta, kakek buyut Suharto : Notosudiro, memiliki isteri yang merupakan anak perempuan dari Hamengkubuwono V.

Terlepas dari situasi sulit siapa ayah kandungnya, perpecahan keluarga dan segala macam konflik psikologis dalam lingkungannya Suharto tumbuh secara baik, ia adalah pemuda yang tampan, berwajah ningrat dan sangat halus perangainya. Beberapa kali Suharto menjadi bahan rebutan antara Sukirah dan Kertosudiro, sehingga Suharto harus tabah dalam menjalani kehidupan. Suharto sendiri mengakui saat paling bahagia adalah ketika ia ‘ngenger’ (menumpang) pada keluarga Prawirohardjo, yang salah satu anaknya adalah Sulardi, di Wuryantoro. Lewat Sulardi inilah Suharto berkenalan dengan Hartinah, puteri wedana di Wonogiri, yang juga merupakan kawan sekelas Sulardi, kelak Hartinah adalah isteri Suharto.

Suharto hidup prihatin, ia senang sekali berpuasa “Saya sudah mengalami banyak laku, banyak tindakan pertapaan di diri saya, satu-satunya yang belum saya lakukan adalah tidur diatas sampah” kenang Suharto dalam biografinya. Bertapa adalah ‘keprihatinan’ ala orang Jawa dalam memahami penderitaan, dalam keprihatinan manusia tidak boleh hidup enak, mereka harus mendidik dirinya sendiri dengan keras agar tidak gampang mengeluh dalam kehidupan dan kuat menghadapi godaan dalam menjalani cita-cita. Guru Suharto paling awal dalam soal kebatinan dan pemahaman pada nilai-nilai filsafat Jawa adalah Kyai Daryatmo yang ditemui Suharto sewaktu muda.

Kemampuan Suharto dalam mengolah diri inilah yang kemudian berhasil menjadikan dirinya sebagai orang disiplin. –Ia juga terus menerus mencari daya linuwih dalam kehidupannya, ia orang yang tidak gemar kenikmatan hidup, ia hanya menjalani apa yang diyakininya benar –terlepas keyakinannya itu membuat sengsara banyak orang, atau membuat keadaan susah- ia tahu apa tujuannya.

Perkenalan Suharto pertama kali dengan militer adalah di KNIL, awalnya ia ingin melamar jadi Angkatan Laut, jadi seorang kelasi, hal ini ia lakukan karena melihat seorang kelasi sedang berlibur di Yogya dan amat gagah. Namun keinginannya saat menjadi kelasi ia urungkan ketika ia mendaftar ke Angkatan Laut Hindia Belanda, soalnya ia mendengar bahwa lowongan yang dibuka hanya sebagai juru masak, sekeluarnya dari pendaftaran kelasi Angkatan Laut, tanpa sengaja ia mendengar bahwa KNIL membuka pendaftaran, ia amat berminat kejadian itu sekitar akhir tahun 1939 atau awal 1940. Hindia Belanda sedang membutuhkan tenaga perang sekitar 35.000 orang pribumi saat itu memang berkembang wacana bahwa kemungkinan Jepang masuk ke Hindia Belanda dan tak mungkin berhadapan dengan Jepang sendirian, seperti di Filipina yang sedang mempersiapkan perlawanan rakyat, maka Belanda harus mempersiapkan pribumi untuk militerisasi demi menghadapi serbuan Jepang. Namun tampaknya wacana militerisasi kaum pribumi menjadi mentah, karena militerisasi ini hanya akan menjadikan ‘senjata makan tuan’ bagi Belanda kelak dikemudian hari, akhirnya kaum pribumi dibatalkan untuk menghadapi Jepang, ratusan ribu senjata yang sedianya digunakan untuk perang disembunyikan dan Pemerintahan Hindia Belanda memilih lari ke Australia.

Suharto masuk dalam program militerisasi besar-besaran itu dan ia lulus sebagai yang terbaik tiga tahun kemudian, tak lama kemudian Jepang masuk.

Ada cerita menarik ketika Suharto ingin masuk KNIL, ia ngangon dua kerbaunya di ladang tebu dan bertemu sepupunya Sukardjo Wilardjito, Sukardjo bercerita dalam bukunya : “Mereka Menodong Bung Karno” bahwa Mas Harto pamit dengan saya untuk masuk tentara karena ia tak sempat bertemu dengan ayah Sukardjo yang kebetulan adalah Paman Suharto dan seorang Lurah di Rewulu, Yogyakarta.

“Kebetulan Dik, kita bertemu disini sehingga aku tak perlu ke rumahmu” katanya kepadaku. “Ada apa sih Mas, kok rupanya penting sekali” jawabku sambil mengerat tebuku untuk kugigit dipatahkan. “Penting sih tidak, cuma mau minta pamit”.

“Memang mau kemana sih mas?”

“Aku akan masuk Kumpeni” kata Suharto. “Sekolahan?”

“Aku sudah berhenti sekolah kok” Sukardjo heran lantas bertanya “Padahal kudengar Mas Harto sudah kelas tiga MULO (SMP), tidak tunggu nanti kalau tamat saja?”

(Percakapan ini tercatat dalam buku “Mereka Menodong Bung Karno, Kesaksian seorang Pengawal Presiden, Soekardjo Wilardjito, Galang Press cetakan I, 2008)

Suharto pamit kepada sepupunya untuk menjadi serdadu di Purworejo, Jawa Tengah dan menghentikan sekolahnya. Percakapan ini menjadi penting bukan saja karena dua orang ini memiliki hubungan saudara, tapi karena kelak dua orang ini di tahun 1966 berhadapan di sisi yang berlainan. Suharto memerintahkan Jenderalnya yang disebut ada tiga orang : Mayjen Amircmachmud, Mayjen M Jusuf dan Mayjen Basuki Rachmat untuk meminta surat perintah kekuasaan menertibkan keadaan, sementara di pihak lain sepupunya Sukardjo Wilardjito yang saat itu berpangkat Letnan Satu menjadi ajudan Bung Karno dan menurut pengakuannya menyaksikan sendiri bagaimana Bung Karno ditodong senjata oleh seorang Jenderal yang ia sebut sebagai : Mayjen Panggabean, Jenderal keempat dalam urusan Supersemar ini sempat heboh di awal tahun 2000, dan sampai sekarang kronologis SP 11 Maret 1966 menjadi berita paling menghebohkan. Namun seperti biasa berita ini tetap dimenangkan oleh pembela Suharto yang mau tak mau Suharto telah memenangkan sejarah dengan memasukkan SP 11 Maret 1966 sebagai tonggak penting konstitusi di Indonesia. Sukardjo kemudian diburu dan dipenjara bahkan sempat dibuang ke luar Jawa, namun selalu urung dibunuh apakah karena mungkin ia sepupu Suharto (?), namun yang jelas disini Suharto bisa amat dingin membedakan mana saudara, mana politik, dan inilah yang kemudian membuat Suharto memang merupakan Jenderal Berdarah Dingin, dan memiliki kepribadian lebih kuat apalagi hanya dibandingkan dengan Nasution yang cenderung lemah.

Kemampuan Suharto dalam memenangkan sejarah ini tak lepas dari kepribadiannya yang teliti sebelum mengambil tindakan dan mengamati. Salah satu modal psikologis dalam memenangkan setiap pertempurannya adalah ia amat “pendiam” Rosihan Anwar sendiri pernah menceritakan hal itu “Saya berjalan berjam-jam dengan Suharto untuk menemui Jenderal Sudirman dan diantar oleh dia, tapi sekalipun ia tidak bicara, ia hanya menyetir mobil, lalu masuk pedesaan, ia juga memetik kelapa dan satu-satunya ucapan yang ia katakan pada saya adalah “silahkan diminum” ketika menawari air degan (degan=kelapa muda) –Ia adalah orang yang ‘kulino meneng’ (terbiasa berdiam diri) sebut Rosihan menjuluki watak Suharto. Kelak di tahun 1974 surat kabar Rosihan Anwar ‘Pedoman’ dibredel Pemerintahan Suharto, ketika Mashuri bertanya bagaimana nasib Pedoman pasca peristiwa Malari 1974, Suharto menjawab sinis “Wis dipateni wae (sudah dibunuh saja)” jelas ini menunjukkan Suharto amat dingin terhadap orang yang ia kenal dimasa lalu. Ia lebih mementingkan tujuan dalam mengerjakan sesuatu ketimbang kehangatan hubungan antar manusia.



Suharto amat berminat dalam latihan-latihan kemiliteran. Ia juga terpengaruh oleh ide-ide nasionalisme yang amat bergema pada masa latihan kemiliteran di PETA, saat itu ide paling besar dari perwira PETA adalah : Nasionalisme Ekstrim, anti Belanda dan Anti Jepang. –ada hal lain yang perlu dicatat PETA berbeda dengan KNIL, dalam PETA tidak adanya pengaruh sipil yang mengendalikan ia seakan-akan bergerak sendiri sementara KNIL amat dipengaruhi keputusan sipil, watak dasar entitas inilah yang kemudian menjelaskan bagaimana kemudian Jenderal-Jenderal Orde Baru lulusan PETA yang kemudian mengambil alih kendali sejarah, memutuskan hubungan dengan sipil dan berani menghajar Sukarno, berbeda dengan jenderal lulusan KNIL yang cenderung taat pada otoritas sipil.

Karir Suharto melejit setelah ia mendengarkan pengumuman bahwa Sukarno telah memerdekakan Indonesia, ia sendiri mengakui bersorak gembira ia larut dalam eforia kemerdekaan Republik Indonesia, ia langsung bertindak di Yogyakarta dan karena masa lalunya yang baik dalam latihan kemiliteran ia langsung diangkat menjadi Mayor Republik, ini adalah keputusan menarik bagi seorang Suharto, karena bagaimanapun sebagai eks KNIL dan memiliki karir bagus di PETA ia bisa saja menunggu Belanda dan melamar menjadi Perwira KNIL untuk perang dengan Republik, tapi Suharto lebih memilih menjadi pejuang di garis kemerdekaan Republik Indonesia, pilihan ini tidak bisa dianggap remeh karena ini bisa menjelaskan watak nasionalisme Suharto yang puritan, ekstrim dan tidak aneh-aneh, setia pada merah putih walaupun kemudian ia gagal paham soal pandangan yang lebih menjlimet lagi ‘soal kedaulatan total’ ide yang dikeluarkan oleh Tan Malaka dan Bung Karno. Bagi Suharto nasionalisme adalah soal kesejahteraan, cinta tanah air dan rakyat tidak kelaparan. Nasionalisme logistik inilah yang kemudian mewarnai Indonesia selama lebih dari 32 tahun.

Suharto adalah orang yang beruntung, ia tanpa sengaja masuk ke dalam pusaran sejarah dan kenal dengan orang-orang nomor satu di negeri ini. Ia bisa kenal dengan Bung Karno lewat kejadian paling bersejarah : Penangkapan Djenderal Mayoor Sudarsono, saat itu Sudarsono adalah orang yang paling berjasa terhadap pembentukan pasukan di Yogyakarta, ia yang menyerang seluruh markas Jepang dan merebut persenjataan sehingga pasukan di Yogyakarta menjadi pasukan terkuat se Indonesia, kekuatan pasukan inilah yang kemudian menjadikan posisi Sri Sultan Hamengkubuwono IX amat penting serta membuat seluruh kabinet Republik Indonesia mengungsi ke Yogyakarta meminta perlindungan pada Sri Sultan Hamengkubuwono IX sekaligus menyusun strategi militer yang lebih komprehensif untuk menghadapi kekuatan Belanda yang menurut data intelijen Inggris dan sudah diterima Sjahrir akan masuk lewat struktur entitas militer bernama NICA.

Di awal tahun 1946 berkembang perdebatan sengit di dua kelompok : Kelompok Sjahrir dan Amir Sjarifuddin yang saat itu mereka bersatu dalam Partai Sosialis (PS) serta menjadi dominan dalam Kabinet menghendaki perundingan kepada Belanda sementara di pihak lain kelompok oposisi yang dipimpin Tan Malaka menghendaki perang total, perang tanpa kompromi dengan Belanda. “Tak Perundingan, Tak ada diplomasi, Merdeka-lah kita 100%”. Kelompok Tan Malaka mendapatkan simpati hampir semua perwira militer terutama yang berasal dari PETA. Jenderal Sudirman adalah pengagum Tan Malaka, ia selalu berdiri dan bertepuk tangan ketika Tan Malaka pidato, anak buah Sudirman Jenderal Mayoor Sudarsono dan anak buahnya Mayor AK Yusuf juga amat berdiri di garis Tan Malaka, namun ada situasi over acting dari tindakan Sudarsono yaitu menangkap Perdana Menteri Sjahrir dan pengikutnya.

Tindakan Sudarsono ini jelas dikecam Sukarno, seorang pemimpin pemuda bernama Sudjojo memerintahkan Suharto –yang saat itu sudah menjadi Letkol karena keberaniannya dalam perang Ambarawa dan menjadi anak buah kesayangan Jenderal Sudirman- untuk menangkap Sudarsono, sementara tak lama kemudian keluar surat perintah dari Sukarno untuk menangkap Sudarsono.

Suharto berpikir, “bagaimana bisa ia menangkap atasannya, orang yang paling berjasa atas lengkapnya persenjataan pasukan di Yogyakarta dan dikagumi banyak serdadu Yogya, sementara saya sendiri adalah pengikut Sudarsono” tapi Suharto amat hati-hati ia membalas surat Sukarno “ia akan menangkap Sudarsono bila ada perintah dari Jenderal Sudirman” Konflik 3 Juli 1946 ini menjadi amat jelas bagi kita bagaimana menilai kemampuan Suharto dalam manajemen konflik dan mengerti atas situasi, ia mendapatkan pelajaran ‘Bahwa kekuasaan bukanlah selalu orang yang berada di atas posisinya, tapi kekuasaan adalah mereka yang secara realitas memegang kekuatan dan kendali atas keadaan’.



Suharto mengerti saat itu bukan Sukarno yang memegang kendali kekuasaan, tapi Sudirman dan Tan Malaka – soal ini secara jelas diungkapkan banyak sejarawan pada waktu itu tentang pola kekuasaan di Indonesia selama masa revolusi bersenjata 1945-1949. Suharto tak mau melakukan tindakan sebelum tahu jelas sekali situasi dan tak mau bertindak sebelum mengerti siapa yang memegang kendali keadaan, inilah yang kemudian menjadikan Suharto selalu memenangkan sejarah, dan ucapan paling fenomenalnya “PKI berada dalam penculikan para Jenderal” di awal Oktober 1965 menunjukkan bahwa memang Suharto memiliki informasi amat lengkap sebelum kejadian dan bukan merupakan spekulasi. Inilah yang membedakan Suharto dengan pelaku sejarah lainnya.

Hari ini kelahiran Suharto, 8 Juni seorang yang amat penting dalam sejarah Indonesia, memang Sukarno merupakan Bapak Pembebas Rakyat Indonesia, tapi mau tak mau peradaban sekarang ini tetaplah peradaban Suhartorian, seluruh pemegang kekuasaan saat ini merupakan anak didik Suharto yang diberi fasilitas pada jaman Suharto, hampir 100% pelaku penting politik saat ini bukanlah orang yang melawan Suharto. Inilah yang menjelaskan kenapa Sudjiwotedjo mengatakan ‘Siapa Bapak Kandung Suharto?” kekuatan tanpa rasa minder, seperti ketika Suharto disindir oleh Mayjen S Parman sebelum kejadian 1965, “Suharto itu siapa, pendidikannya apa, arep melu-melu ngurus negoro” yang dicatat dalam Buku Subandrio, juga beberapa catatan sejarah tentang para Jenderal yang berpendidikan tinggi dan mengejek Suharto apalagi ketika Suharto dengan lihai menggantikan posisi Bung Karno sebagai Presiden RI di tahun-tahun awal kekuasaannya, Suharto selalu menerima banjir ejekan atas dirinya yang kurang berpendidikan dan memiliki masa lalu tak jelas

Keadaan itu dijawab Suharto dengan tenang termasuk ketika ia mengadakan konferensi pers saat itu di tahun 1974, ramai sekali perdebatan siapa Bapak Kandung sesungguhnya Suharto, bahkan Mashuri bekas tetangga Suharto dan mantan Menteri Pendidikan memberikan keterangan bahwa Suharto adalah anak keturunan Cina (seperti yang diungkapkan Elson dalam bukunya). Saat itu ramai spekulasi bahwa Suharto adalah anak kandung Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, artinya dia adalah adik kandung Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ada juga yang menyatakan bahwa ayah kandung Suharto adalah “orang yang memegang payung kuning Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Namun spekulasi-spekulasi itu dijawab tenang oleh Suharto dalam konferensi pers : “Saya adalah anak Petani”.

Ya, Suharto adalah anak petani yang secara politik bisa mengalahkan Sudarsono, DN Aidit, Sukarno, Hatta, Nasution dan seluruh orang besar di negeri ini yang mustahil dikalahkan, secara politik ia hanya dikalahkan oleh umurnya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar